Bayangkan Anda diminta berjalan keliling kota Jakarta selama 30 menit mengenakan papan sandwich bertuliskan “Makan di Warung Mbok Yum”. Apakah Anda bersedia?
Pada tahun 1977, peneliti Stanford, Lee Ross, menanyakan hal serupa kepada mahasiswanya. Hasilnya sangat mengejutkan dan menjadi dasar dari apa yang kita kenal sebagai False Consensus Effect.
Dari mereka yang setuju memakai papan tersebut, 61,4% percaya orang lain juga akan setuju. Sebaliknya, dari mereka yang menolak, 70% yakin orang lain juga akan menolak. Kedua kelompok tersebut berpikir bahwa keputusan merekalah yang merupakan pandangan mayoritas. Dan kedua kelompok tersebut salah.
Inilah definisi dasar dari False Consensus Effect: sebuah bias kognitif di mana kita cenderung melebih-lebihkan seberapa banyak orang lain setuju dengan kita, berpikir seperti kita, dan berperilaku seperti kita.
Dalam dunia bisnis, bias ini adalah pembunuh diam-diam. Jika Anda berasumsi bahwa karena Anda menyukai kopi pahit, maka seluruh pasar juga demikian, Anda sedang membangun strategi di atas pondasi yang rapuh. Artikel ini akan membahas bagaimana bias ini menyabotase kampanye marketing Anda dan cara ampuh menghentikannya.
Apa Itu False Consensus Effect dalam Konteks Marketing?
Secara sederhana, False Consensus Effect terjadi ketika marketer atau pemilik bisnis memproyeksikan preferensi pribadi mereka ke pasar yang luas. Ini terjadi karena pengalaman pribadi kita adalah data yang paling “tersedia” di otak kita (availability heuristic). Kita memproyeksikannya ke dunia luar agar merasa normal.
Misalnya, Anda membenci iklan pop-up. Oleh karena itu, Anda berasumsi bahwa iklan pop-up tidak akan efektif untuk siapapun. Padahal, data mungkin menunjukkan sebaliknya untuk audiens tertentu.
Bahaya terbesar muncul ketika Anda meyakini kalimat: “Saya adalah customer saya.”
Kenyataannya, Anda bukanlah customer Anda. Jika Anda membangun kampanye hanya berdasarkan apa yang Anda suka, Anda sedang mempertaruhkan seluruh anggaran pemasaran pada ukuran sampel satu orang (sample size of one).
3 Cara Mematahkan Bias False Consensus Effect
Untuk memenangkan persaingan di era digital yang semakin bising, Anda harus memisahkan intuisi dari strategi. Berikut adalah tiga langkah taktis untuk menghilangkan bias ini dari keputusan bisnis Anda.
1. Ganti “Menurut Saya” dengan “Data Berbicara”
Frasa paling berbahaya dalam rapat marketing adalah, “Saya tidak akan mengklik iklan itu.”
Kebenarannya seringkali pahit: Tidak peduli apa yang akan Anda lakukan. Yang penting adalah apa yang dilakukan oleh pengguna (user). Untuk mengalahkan False Consensus Effect, Anda harus membuang ego dan melihat data objektif.
Contoh paling nyata adalah Booking.com. Jika Anda melihat antarmuka (UI) mereka, mungkin terlihat “jadul”, penuh dengan warna cerah, dan pemicu urgensi yang mendesak. Seorang desainer minimalis mungkin membencinya. Namun, Booking.com melakukan ribuan A/B testing, dan desain “jelek” itulah yang selalu menang dalam hal konversi.
Mereka tidak menebak; mereka membiarkan perilaku pengguna mendikte desain. Jika data mengatakan desain yang ramai menghasilkan konversi lebih tinggi, maka itulah yang dipakai.
Hal ini sejalan dengan pentingnya memahami metrik yang benar. Seringkali brand merasa sulit mengukur keberhasilan karena bias perasaan, padahal pengukuran brand adalah tentang data konkret. Baca juga pandangan mendalam tentang Why Measuring Brand Feels Impossible (But You Should Still Try).
Untuk menerapkan ini, brand Anda harus memiliki kesiapan infrastruktur data yang matang. Pelajari lebih lanjut tentang Kesiapan Brand untuk Pemasaran Digital.
2. Lawan “Curse of Knowledge” dalam Copywriting
Bias konsensus palsu sangat erat kaitannya dengan Curse of Knowledge (Kutukan Pengetahuan). Karena Anda memahami produk Anda dengan sangat sempurna, Anda berasumsi audiens Anda juga memahaminya.
Akibatnya? Copywriting Anda penuh dengan jargon teknis, akronim, dan fitur rumit yang membingungkan pelanggan. Anda mengasumsikan adanya “konsensus pemahaman” yang sebenarnya tidak ada.
Ambil contoh Loom. Mereka bisa saja memasarkan diri mereka sebagai “asynchronous video messaging software”. Secara teknis akurat, tapi terdengar seperti pekerjaan rumah yang berat untuk dipelajari. Sebaliknya, mereka fokus pada pain point yang dipahami semua orang: mengirim video daripada menulis email panjang.
Mereka menjembatani kesenjangan antara teknologi mereka dan realitas pelanggan. Strategi komunikasi yang jelas ini sangat krusial, terutama saat Anda melakukan peluncuran produk baru. Simak studi kasus tentang Soft Launching: Langkah Strategis Membangun Fondasi Brand yang Kuat.
Selain itu, memahami psikologi persepsi sangat penting dalam menyusun pesan. Seperti yang dibahas dalam Political Marketing, cara kita merekayasa persepsi seringkali lebih penting daripada detail teknis produk itu sendiri. Baca selengkapnya di Political Marketing Secrets: Inside the Mind of a Perception Engineer.
3. Persempit Target: Berhenti Menyenangkan Semua Orang
Karena False Consensus Effect membuat kita berpikir semua orang berpikir seperti kita, kita sering terjebak mencoba memasarkan produk ke “semua orang”.
Strategi yang lebih baik adalah menerima fakta bahwa konsensus adalah mitos, dan beranilah melakukan polarisasi. Jika Anda mencoba menyenangkan semua orang, Anda akan membosankan bagi semua orang.
Contoh brilian adalah Liquid Death. Mereka menjual air dalam kaleng yang terlihat seperti bir dengan branding heavy metal yang agresif. Mereka tahu nenek-nenek mungkin tidak akan membelinya. Mereka tahu sebagian orang akan menganggapnya bodoh. Dan mereka tidak peduli.
Mereka mengabaikan konsensus luas dan membangun basis pengikut fanatik (cult following) di antara orang-orang yang mengerti lelucon tersebut.
Strategi ini membutuhkan keberanian untuk tampil beda dan memiliki aset brand yang distingtif. Pelajari bagaimana menerapkannya dalam Brand Positioning Killer: Strategi Menang Tanpa Inovasi Radikal.
Bahkan bisnis lokal pun bisa sukses besar dengan mengabaikan norma umum dan melakukan aktivasi brand yang unik, seperti yang dilakukan oleh Baby Zu di Malang. Baca studi kasusnya di Pentingnya Aktivasi Brand untuk Bisnis Lokal.
Hindari Bias, Maksimalkan Pertumbuhan Bersama Uraga
Mengatasi False Consensus Effect bukanlah tugas yang mudah. Diperlukan disiplin untuk terus-menerus mempertanyakan asumsi sendiri dan keberanian untuk mengikuti data, meskipun data tersebut bertentangan dengan selera pribadi Anda.
Di sinilah peran mitra strategis menjadi krusial.
Di Uraga Digital Agency, kami tidak bekerja berdasarkan tebakan atau preferensi subjektif. Sebagai Digital Agency Terbaik di Malang, kami menggabungkan kreativitas dengan analisis data yang mendalam untuk memastikan strategi marketing Anda tepat sasaran, bukan berdasarkan apa yang kami suka, tapi berdasarkan apa yang audiens Anda butuhkan.
Apakah Anda siap membuang asumsi yang bias dan mulai mencetak hasil yang riil?
Jangan biarkan anggaran marketing Anda terbuang karena bias kognitif. Mari berdiskusi dan susun strategi yang berbasis pada realitas pasar, bukan sekadar intuisi.
[Hubungi Uraga Sekarang untuk Konsultasi Strategi Digital Anda]

