Cara Pilih Agency: Beneran 90% Agency Itu Dark?

Cara pilih agency digital marketing tanpa kejebak “dark agency”. Pelajari framework Brandformance yang dipakai Uraga untuk bantu brand tumbuh lebih sehat.

Pernah gak kamu dengar kalimat: “90% agency itu dark, cuma bisa jual janji”?
Atau lihat video orang curhat: agency bikin konten aja gak bisa bikin viral, seolah kalau gak tembus jutaan views berarti agency-nya useless?

Masalahnya bukan sesimpel itu.
Sering kali yang error bukan agencynya dulu, tapi cara kita memahami peran agency, ekspektasi, dan SOW (scope of work).
Dan di era 2025, ketika semua orang bisa teriak di sosial media, cara pilih agency jadi jauh lebih penting daripada sekadar ikut emosi karena satu video.

Artikel ini gue tulis dari POV praktisi:

  • CEO Uraga Digital (agency yang hidup dari brand-brand beneran, bukan dari jualan kelas)
  • yang pernah ngerasain konten jutaan views tapi omset gak gerak,
  • dan pernah juga ngerasain view “biasa aja” tapi WA dan order literally jebol.

Di sini gue gak mau bela semua agency.
Banyak agency memang gelap. Tapi… gak semua agency itu dark, dan gak semua client itu fair juga.
Yang penting: lo sebagai pemilik bisnis ngerti cara pilih agency yang sehat, bukan cuma jago gimmick.


1. Narasi “90% Agency Dark” dan Masalah Sebenarnya

Video kayak yang dibawain Samuel Christ itu laku karena:

  • Banyak brand yang pernah dikecewakan agency
  • Banyak agency yang jualan kemasan kosong
  • Banyak pebisnis yang gak paham apa yang sebenarnya ia beli

Dari sisi market, di Indonesia dan Asia Tenggara, budget digital marketing naik terus tiap tahun. Brand tambah banyak, channel tambah kompleks (Meta, TikTok, Shopee, Tokopedia, Google, KOL, affiliate).
Akibatnya:

  • Agency tumbuh di mana-mana
  • Kualitasnya sangat bervariasi
  • Banyak yang cuma jadi “tukang posting

Lalu muncul label: “dark agency”, agency yang:

  • Jual mimpi “bisa viral” tapi gak punya sistem
  • Gak pernah ngomongin funnel & ekonomi campaign
  • Suka “main belakang” ke brand besar cuma buat mark up fee

Masalahnya, ketika narasi “90% agency dark” diviralkan tanpa konteks, efeknya:

  • Brand jadi benci agency duluan, mikir semua sama
  • Diskusi soal struktur biaya, SOW, dan objektif jadi hilang
  • Padahal ini justru kunci cara pilih agency yang benar

Di titik ini, kalau lo cuma ikut nada: “Iya ya, semua agency sampah.”
Ya lo juga ikut andil dalam edukasi yang gak tuntas.


2. Viral Itu Penting, Tapi Bukan Mata Uang Utama Bisnis

Sekarang bahas jujur.
Viral penting?
Penting. Awareness gede, social proof, jadi bahan cerita.

Tapi viral bukan mata uang utama bisnis.
Mata uang utama lo tetap:

  • Revenue
  • Margin
  • Cashflow
  • Health jangka panjang brand

Gue pernah ngerasain:

Konten klien tembus jutaan views di TikTok.
Followers naik. Komentar rame.
Hasil akhirnya? Rame doang. Omset gak nambah sebanding.

Di sisi lain, ada campaign yang “biasa aja” views-nya:

  • 10–50 ribu views
  • Tapi funnel rapi
  • Landing page jelas
  • Form & WA connect
  • Audience tepat

Hasilnya: CPA turun, closing naik, repeat jalan.

Jadi kalau lo masuk ke agency dengan mindset:

“Gue bayar supaya pasti viral.”

Lo lagi salah beli produk.
Itu bukan cara pilih agency yang waras.

Yang lebih sehat:

“Gue bayar agency untuk:

  • Bantu gue ngerjain fungsi tertentu (produksi, distribusi, media buying, KOL, dsb)
  • Dengan target yang masih nyambung ke realita bisnis
  • dan gue paham mana yang output dan mana yang outcome.”

3. Output vs Outcome: Sering Kali yang Kacau Bukan Agency, Tapi Ekspektasi

Ini problem klasik:

  • Yang dibayar: output
  • Yang diharap: outcome

Contoh:

  • Yang di kontrak: 15 konten/bulan + manajemen ads
  • Yang di kepala client: “Omset gue harus naik 3x dalam 2 bulan.”

Padahal:

  • Produk belum jelas positioning-nya
  • Harga gak kompetitif
  • Marginnya tipis
  • Operasional di belakang amburadul

Lalu begitu hasilnya gak sesuai mimpi → agency dilabel dark.

Biar gampang, gini aja:

Produksi itu kayak desain interior café
Performance itu kayak omset café

Bayangin lo manggil interior designer:

  • Dia bikin café lo bagus, cozy, estetik
  • Kursi, lampu, layout, semuanya cakep

Terus lo bilang:

“Mas, bulan depan kafe saya belum tembus 300 juta ya, saya bilang Mas penipu.”

Logika macam apa?

Interior designer bisa bantu:

  • Suasana mendukung
  • Brand experience terasa
  • Orang betah nongkrong

Tapi:

  • Rasa kopi
  • Lokasi
  • Harga
  • Pelayanan staff
  • Sistem operasional

Itu di luar kuasa si desainer.

Agency juga gitu.
Kalau kontraknya konten & distribusi, jangan paksa mereka tanggung semua struktur bisnis lo.

Makanya, cara pilih agency itu harus dimulai dari:

  1. Lo ngerti dulu apa yang lo beli
  2. Mereka jelas menjelaskan apa yang mereka kerjakan dan TIDAK kerjakan
  3. Ada bridging sehat antara output agency dan outcome bisnis

Kalau belum ngerti bedanya, sebaiknya lo baca dulu:


4. Cara Pilih Agency yang Sehat (Bukan yang Paling Gacor Janji)

Daripada ikut narasi “90% agency dark”, mending pakai checklist ini.

1. Lihat Cara Mereka Ngomongin VIRAL

Tanya langsung:

“Kalau konten saya tidak viral, apa yang masih bisa kita ukur?”

Agency sehat bakal jawab dengan ngomongin:

  • CTR, CPM, CPC, CPA
  • Funnel: TOF – MOF – BOF
  • Retargeting & nurture
  • Brand asset & memory structure

Agency dark biasanya:

  • Cuma bilang: “Santai, kita bikin konten yang FYP kok.”
  • Gak punya struktur tes
  • Gak bisa jelasin kenapa sesuatu bisa bekerja

2. Cek Apakah Mereka Punya FRAMEWORK, Bukan Cuma Style

Cara pilih agency berikutnya: lihat framework.

Tanya:

“Kalau masuk handle brand saya,

  • bulan 1 kalian ngapain,
  • bulan 2 ngapain,
  • bulan 3 ngapain?”

Agency sehat:

  • Punya fase: discovery → test → scaling
  • Punya cara dokumentasi insight
  • Punya pola “belajar dari campaign sebelumnya”

Agency gelap:

  • “Pokoknya kita gas dulu konten, lihat nanti.”
  • Setiap bulan feel-nya random

3. Lihat Kontrak & SOW-nya

Minimal:

  • Jelas berapa banyak konten
  • Jelas siapa yang pegang Ads Manager
  • Jelas budget ads di tangan siapa
  • Jelas KPI utama (reach? leads? sales? traffic?)

Agency yang takut transparansi biasanya:

  • Nyampur aduk fee agency + ads spend
  • Gak mau buka dashboard
  • Semua lewat “laporan PDF” yang gak bisa dicek ulang

Kalau lo mau gambaran, baca juga:
Uraga: Digital Marketing Agency Malang Terdepan untuk Pertumbuhan Bisnis Anda


5. Kenapa Uraga Gak Main di “Dark Agency Playbook”

Gue gak akan pura-pura suci.
Uraga juga belajar dari banyak kegagalan campaign.
Tapi ada beberapa prinsip yang sengaja gue pasang supaya kita gak jatuh ke lubang dark agency:

1. Kami Bedakan Jelas: PRODUKSI vs PERFORMANCE

  • Kalau project-nya konten & social media management, kita treat sebagai branding & presence
  • Kalau project-nya ads & growth, kita treat sebagai performance

Kenapa penting?
Karena cara pilih agency harus mempertimbangkan ini:

“Gue lagi nyari tukang bikin rumah (produksi),
atau gue nyari konsultan properti yang bantuin gue menghitung payback period (performance)?”

Di Uraga, kontrak kita dipecah jelas.
Jadi client paham mereka lagi beli yang mana.

2. Kita Pakai Mindset “Brandformance”, Bukan Viral doang

Brandformance = branding + performance.
Artinya:

  • Kami masih peduli visual, tone, cerita, dan konsistensi brand
  • Tapi kami juga ngukur apa yang terjadi di iklan, funnel, dan business metric

Kalau campaign viral tapi gak ngasih apa-apa ke bisnis, kita anggap itu lesson learned yang mahal, bukan kemenangan.

Kalau campaign view “biasa aja” tapi:

  • WA ramai
  • Leads berkualitas
  • ROAS masuk akal

Itu yang kami anggap success metric.

Gue juga pernah bahas pola ini di Substack:

3. Kita Lebih Suka Ngobrol Lama di Depan, Daripada Ribut di Belakang

Jujur aja:
Banyak drama agency–client bisa dihindari kalau dari awal:

  • Ekspektasi dibuka
  • Data lama dibongkar
  • Produk dan margin dibahas

Di Uraga, terutama untuk brand di Jakarta / Surabaya / Malang, kita selalu minta:

  • Access data minimal: angka penjualan, AOV, margin kira-kira
  • Cerita dulu: brand ini mau jadi apa 2–3 tahun ke depan
  • Diskusi: cocok gak kalau pakai pendekatan Brandformance

Dan kalau dari awal gue rasa:

  • Produk belum siap
  • Margin gak masuk
  • Ekspektasi gak realistis

Ya gue bilang terus terang.
Lebih baik gak jadi deal, daripada jadi hubungan toksik 6 bulan.

Kalau lo mau lihat “jualan resmi” kita:
👉 uraga.co.id – di sini kami taruh profil, layanan, dan studi kasus.


6. Checklist Praktis: 5 Pertanyaan Sebelum Kamu Tanda Tangan Kontrak Agency

Sebelum lo transfer DP ke agency mana pun (termasuk Uraga), coba pakai checklist ini.

  1. Apa yang jadi KPI utama kerja sama ini?
    • Reach? Leads? Sales? Atau cuma konsistensi konten?
    • Kalau jawabannya kabur, jangan lanjut.
  2. Siapa yang pegang akses utama (Ads Manager, Pixel, WA API, Marketplace)?
    • Idealnya: tetap atas nama brand, bukan agency.
    • Agency boleh jadi admin, tapi jangan sampai semua atas nama mereka.
  3. Seperti apa laporan bulanan mereka?
    • Ada angka jelas?
    • Ada insight, bukan cuma screenshot?
    • Ada rekomendasi perbaikan?
  4. Apa yang terjadi kalau hasil gak sesuai target?
    • Ada sesi evaluasi?
    • Ada adjustment strategy?
    • Ada skema money-back atau performance-based (kalau memang mereka berani)?
  5. Kenapa mereka merasa cocok dengan industri kamu?
    • Pernah pegang kategori serupa?
    • Paham channel utama di industri itu (misal TikTok Shop untuk F&B, Meta untuk B2B, dsb)?

Kalau agency gak bisa jawab ini dengan tenang dan jernih, itu red flag.
Kalau jawabannya cuma: “Tenang aja, Bro. Nanti juga FYP.”
Lo udah tau jawaban gue lah, ya.


7. Penutup: Agency Bukan Malaikat, Tapi Juga Bukan Semua Iblis

Singkatnya, “90% agency dark” mungkin enak buat konten, tapi bahaya kalau dijadikan kebenaran tunggal.
Agency itu:

  • Ada yang bejat, iya.
  • Ada yang malas belajar, iya.
  • Tapi ada juga yang tiap hari pusing mikirin gimana caranya bikin brand lo survive & grow, bukan cuma viral.

Sebagai pemilik bisnis, tugas lo bukan cuma marah ke agency.
Tugas lo adalah:

  • Paham apa yang lo beli
  • Punya standar cara pilih agency yang jelas
  • Bangun relasi jangka panjang dengan partner yang se-frekuensi

Kalau lo pengen lihat gimana pendekatan Brandformance kami dipakai di berbagai konteks, lo bisa mulai dari:

Dan kalau lo merasa:

“Gue butuh agency yang gak cuma ngejar viral, tapi ngerti angka & realita bisnis gue.”

Silakan mampir dan kenalan di:
👉 uraga.co.id

Kita lihat dulu, kita cocok sebagai partner atau enggak.

Internal Link – Brandformance.id

External Link – Substack Dirga Isman (relevan ke topik agency & marketing)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *