TL;DR
- Kasus challenge hafalan Surah Ad-Dhuha dengan hadiah miras di booth Newport memicu kecaman luas dan laporan polisi.
- Brand dan EO mengklaim aksi itu spontan, tapi publik tetap menilai mereka yang gagal menjaga ruang event.
- Insiden ini bukan sekadar gimmick kebablasan, melainkan kegagalan sistem kontrol lapangan dan brand safety.
- Brand Indonesia perlu SOP aktivitas booth yang ketat, bukan sekadar menyetujui desain visual.
- Klarifikasi tanpa tindakan nyata hanya akan memperparah krisis reputasi di mata konsumen.
Sebuah video viral dari festival The Sounds Project Vol. 9 di Ancol pada 9 Agustus 2026 menggemparkan publik Indonesia. Di booth sponsor minuman beralkohol Newport, pengunjung dilempar challenge melafalkan Surah Ad-Dhuha dengan imbalan sebotol miras. Insiden malam itu melibatkan MC inisial E dan langsung memicu respons tajam dari MUI, PBNU, hingga Gubernur DKI Pramono Anung. Dari sudut pandang brandformance, kasus ini bukan sekadar kontroversi biasa. Blunder brand Newport ini adalah studi kasus sempurna mengenai betapa rapuhnya kontrol lapangan dan betapa mahal harga sebuah asosiasi yang sensitif di era digital.
Mengapa "Spontan" Tidak Menghapus Tanggung Jawab Brand
Pihak Newport dan EO The Sounds Project merilis klarifikasi bahwa aktivitas tersebut muncul spontan dari pengunjung. Mereka menegaskan bahwa hal itu bukan program resmi, konsep promosi, maupun arahan dari manajemen. Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Kejadian itu terjadi di area booth resmi, melibatkan MC event, dan menggunakan produk sponsor sebagai hadiah utama.
Publik tidak membedakan mana aksi terencana dan mana improvisasi dadakan. Faktanya, ketika sebuah kejadian berlangsung di booth event dan membawa produk sponsor, asosiasi reputasi langsung melekat pada brand. Tim kami di Uraga selalu mengingatkan bahwa dalam event marketing, ruang fisik adalah perpanjangan tangan dari identitas brand. Jika Anda menyediakan panggung, Anda bertanggung jawab atas apa yang terjadi di atasnya.
Baca juga: Blunder Brand Moell: Bahaya Endorse Tanpa Mikir Platform
Baca juga: Blunder Konten Reactive Kahf Threads: Ketika Euforia Sepak Bola Menghancurkan Reputasi Merek
Tiga Kegagalan Besar dalam Brand Safety Event
Dari kacamata strategi, insiden ini membongkar tiga masalah fundamental dalam pengelolaan aktivasi brand di lapangan:
- Brand-safety failure yang fatal: Booth sponsor adalah bagian tak terpisahkan dari pengalaman event. Walaupun EO dan brand menyangkal memberi arahan, publik tetap menghubungkan kejadian itu dengan keduanya. Ini terjadi karena insiden berlangsung di area resmi acara dan menggunakan produk sponsor sebagai hadiah.
- Lemahnya kontrol lapangan: Event besar butuh guardrail yang ketat. Tanpa aturan aktivitas booth, briefing MC yang terstandar, pengawasan sponsor, dan jalur eskalasi saat ada improvisasi pengunjung, ruang fisik sangat mudah dibajak. Label "spontan" sama sekali tidak menghapus dampak reputasi yang sudah terlanjur viral.
- Asosiasi yang sangat sensitif: Saat agama, alkohol, dan ruang hiburan bertemu dalam satu video, virality bergerak jauh lebih cepat daripada klarifikasi. Dalam kasus ini, klarifikasi baru muncul setelah video memicu kecaman luas dan laporan ke Polda Metro Jaya.
Krisis Reputasi dan Respons Hukum
Akibatnya, krisis merambat dengan cepat ke ranah hukum. Ketua MUI Asrarun Niam menyebut ini sebagai bentuk perendahan kesucian Al-Qur'an karena menyandingkan kitab suci dengan barang yang diharamkan. Polisi sudah turun tangan melakukan penyelidikan. Pelapor menggunakan pasal 300 KUHP baru soal penodaan agama dengan kemungkinan adanya pasak tambahan.
Bagi brand lain yang sering melakukan aktivasi event, ini adalah sirene keras. Risiko hukum kini menjadi konsekuensi nyata dari lemahnya pengawasan di lapangan. Seperti strategi digital marketing untuk B2B yang menuntut presesi tinggi, aktivasi brand konsumer juga menuntut kontrol yang sama ketatnya. Anda tidak bisa mengandalkan naluri pengunjung atau MC untuk menjaga batas etika brand Anda.
Pelajaran Penting untuk Brand Indonesia
Brand Indonesia, terutama yang kerap bermain di sektor lifestyle dan F&B, harus menarik pelajaran mahal dari insiden ini. Jangan hanya menyetujui desain booth yang estetik. Pastikan ada SOP aktivitas yang detail. Tugas ini meliputi script MC yang terstandar dan larangan eksplisit untuk konten yang menyentuh agama, SARA, atau penghinaan.
Selain itu, Anda harus menunjuk PIC brand atau EO yang punya kewenangan menghentikan aktivitas di lapangan secara real-time. Jika ada sesuatu yang berjalan keluar jalur, mereka harus punya otoritas untuk memadamkan api sebelum membesar. Seperti yang kita pelajari dari bahaya trend jacking, ikut arus tanpa perhitungan matang hanya akan berujung pada bencana.
Membangun Crisis Protocol Sebelum Event Dimulai
Inilah kuncinya: siapkan crisis protocol jauh sebelum event dimulai. Jangan menunggu video viral dulu baru panik mencari juru bicara. Protokol krisis yang baik harus menjawab tiga hal dengan cepat: siapa yang berbicara atas nama brand, kapan pernyataan resmi keluar, dan langkah korektif apa yang langsung dilakukan.
Ketika krisis sudah terjadi, klarifikasi Anda harus memuat tiga hal esensial:
- Pengakuan dampak: Akui bahwa kejadian tersebut menimbulkan kegaduhan dan keresahan publik. Jangan meremehkan reaksi audiens.
- Batas tanggung jawab yang jelas: Jelaskan sejauh mana kendali brand beroperasi, tanpa terdengar seperti menghindar dari tanggung jawab.
- Tindakan nyata: Tunjukkan langkah korektif yang sudah diambil. Evaluasi internal yang vagu tidak akan memuaskan publik.
Sementara itu, MC terkait di kasus ini sudah meminta maaf dan mengakui kelalaiannya ketika pengunjung mengambil mikrofon serta membuat sayembara itu. Namun, maaf yang datang setelah video menyebar luas sering kali terlambat untuk menyelamatkan persepsi publik.
Kesimpulan
Insiden blunder brand Newport di The Sounds Project adalah pengingat keras bahwa dalam aktivasi brand, detail di lapangan menentukan nasib reputasi. Pihak EO dan brand boleh mengatakan aktivitas itu bukan arahan resmi. Namun, ketika kejadian berlangsung di booth event dan membawa produk sponsor, publik akan tetap menilai siapa yang gagal menjaga ruangnya. Brand Indonesia harus berinvestasi pada SOP kontrol lapangan yang ketat dan crisis protocol yang matang. Reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa hancur dalam satu malam hanya karena satu improvisasi yang tidak terkontrol.
Baca juga: Blunder Teazzi & Gelombang Boikot Nagita: Mengapa Brand Harus Baca Dinamika Publik
🚨 Jangan biarkan brand Anda jadi studi kasus berikutnya. Pastikan setiap aktivasi event punya SOP ketat dan crisis protocol yang siap tempur! 👉 Hubungi tim kami di seo.uraga.co.id


