Pernah gak kamu ngerasa sudah upload produk di semua marketplace, tapi orderan tetap random dan saldo iklan bocor ke mana-mana?
Masalahnya sering bukan di “kurang marketplace”, tapi di salah milih habitat buat brand kamu.
Dan di 2025, ketika TikTok berubah jadi social commerce terbesar, memilih marketplace populer untuk jualan produk UMKM bukan lagi “ikut-ikutan tren”, tapi keputusan strategis soal hidup-matinya cashflow.
Di artikel ini, aku mau bahas dari POV yang mungkin agak nyelekit:
Default-nya: fokus ke TikTok dulu.
Karena di sana orang main sosmed dulu, baru belanja, dan traffic-nya sudah gila-gilaan. Tinggal tugas kita: ngubah atensi jadi urgensi beli.
Tapi ini penting: bukan berarti semua brand harus TikTok-only.
Setiap brand punya habitat: ada yang cocok hidup di social commerce, ada yang lebih sehat di marketplace search-based. Terutama untuk kategori high perception seperti fashion, parfum, skincare premium, standar estetika di industri ini sudah tinggi. Kalau visual dan branding-mu “b aja”, kamu auto tenggelam.
Kenapa TikTok Layak Jadi “Rumah Utama” Social Commerce UMKM
Mari jujur dulu: kalau hari ini kamu buka HP, mana yang lebih sering kamu tap duluan, ikon marketplace, atau ikon TikTok/Instagram?
Itu clue pertama.
TikTok = social commerce.
Orang datang bukan niat belanja, tapi:
- cari hiburan,
- cari referensi gaya,
- kepo sama hidup orang lain,
- baru kemudian… ke-trigger beli.
Artinya, funnel-nya kebalik dari marketplace tradisional:
- Di Shopee/Tokopedia → orang masuk dengan intent cari barang.
- Di TikTok → orang masuk dengan intent social, lalu diprovokasi untuk beli lewat konten, live, dan rekomendasi algoritma.
Buat banyak UMKM, terutama yang:
- produknya visual (fashion, kosmetik, accessories, F&B),
- punya cerita menarik (founder story, local pride, bahan unik),
- dan berani tampil depan kamera,
TikTok harusnya jadi kandidat kuat “rumah utama” untuk jualan.
Nah, di sini rekomendasi marketplace populer untuk jualan produk UMKM jadi agak beda:
Alih-alih nanya, “Saya harus buka di mana?”
Lebih sehat kalau nanya:
“Saya jadikan TikTok sebagai mesin demand, lalu marketplace mana yang jadi mesin checkout?”
Framework Memilih Marketplace: Habitat Brand Dulu, Baru Traffic
Sebelum sibuk buka toko di 4–5 platform sekaligus, pakai framework simpel ini. Karena masing-masing brand memang punya habitatnya sendiri.
1. Kenali Dulu: Brand Kamu High Perception atau Komoditas?
High perception brand:
Fashion, parfum, skincare, lifestyle, furniture estetik, F&B premium.
Konsumen butuh:
- persepsi “brand ini cakep” sebelum klik beli,
- standar visual yang tinggi (feed rapih, video niat, tone warna konsisten),
- trust dari social proof (komen, review, creator).
Kalau kamu main di kategori ini, habitat utamamu sering kali:
- TikTok → untuk bangun desire, storytelling, dan social currency.
- Marketplace (Shopee, Tokopedia) → sebagai kanal checkout yang rapi.
Produk komoditas / fungsional:
Alat rumah tangga, sparepart, alat kerja, kebutuhan harian, barang murah meriah.
Buyer tipe ini:
- lebih peduli fungsi dan harga,
- sering masuk dari kolom search,
- kurang peduli aesthetic brand, selama review oke.
Habitat yang lebih natural:
- Shopee / Tokopedia / Lazada → search, filter, banding harga.
- TikTok tetap bisa dipakai, tapi bukan satu-satunya nyawa.
Jadi, sebelum bahas marketplace populer untuk jualan produk UMKM, jujur dulu:
“Brand saya dijual karena cantiknya atau karena fungsinya?”
Jawaban itu menentukan prioritas kanal.
2. Mapping: Social-First vs Search-First vs Catalog-First
Selanjutnya, mapping journey buyer kamu:
- Social-first (TikTok/IG → marketplace/WhatsApp)
- Buyer kenal brand dari konten, FYP, review, atau rekomendasi creator.
- Cocok untuk: fashion, parfum, skincare, F&B, lifestyle, produk “pamer-able”.
- Strategi: TikTok sebagai mesin demand, marketplace sebagai mesin transaksi.
- Search-first (masuk dari keyword di marketplace)
- Buyer sudah tahu mau beli apa, tinggal pilih merek dan harga.
- Cocok untuk: alat rumah tangga, elektronik kecil, alat kerja, kebutuhan harian.
- Strategi: optimasi judul, harga, review, dan iklan dalam marketplace.
- Catalog/Corporate-first (website, katalog B2B, WhatsApp)
- Biasanya transaksi B2B, order besar, atau jasa.
- Contoh: perusahaan jasa, vendor B2B, agensi seperti Uraga Digital.
- Strategi: website dan konten edukasi jadi ujung tombak.
- Untuk referensi soal kesiapan brand digital, kamu bisa baca:
Kesiapan Brand untuk Pemasaran Digital
https://brandformance.id/2025/02/20/kesiapan-brand-pemasaran-digital/
Dengan cara ini, kamu tidak cuma ikut-ikutan daftar di semua marketplace populer untuk jualan produk UMKM, tapi tahu fungsi masing-masing kanal dalam funnel.
3. Hitung Ekonomi Channel: Bukan Cuma “Yang Penting Laku”
Kesalahan klasik UMKM:
Selama barang bergerak dan ada notifikasi “pesanan baru”, dianggap sehat.
Padahal kamu harus lihat:
- Biaya komisi + program promo,
- Biaya iklan per channel,
- Diskon & voucher,
- Cost of content (kalau social commerce),
- Waktu tim buat jawab chat dan kelola gudang.
Baru tanya:
“Channel mana yang benar-benar kasih profit, bukan cuma kasih drama?”
Untuk kategori high perception:
- TikTok butuh biaya konten (waktu, tenaga, talent).
- Tapi kalau berhasil, margin bisa lebih tebal karena brand perception kuat.
- Produk tidak harus jadi yang termurah di marketplace.
Untuk kategori komoditas:
- Konten TikTok boleh ada, tapi jangan sampai kamu ngabisin energi di konten sementara buyer utamanya tetap datang dari search marketplace.
- Fokus ke harga, review, dan ketersediaan stok.
Contoh Kasus: Brand High Perception vs Brand Fungsional
Biar konteksnya kebayang, kita pakai dua ilustrasi yang sering kami temui di Uraga Digital.
Kasus 1 – Brand Fashion Lokal yang “Main Aman” di Marketplace
Ada brand fashion lokal yang:
- produknya sebenarnya oke,
- model fotonya lumayan,
- tapi funnel-nya begini:
- Buka toko di Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, Lazada.
- Semua katalog di-upload seadanya.
- Iklan nyala tipis di semua tempat.
- Tidak ada konten TikTok yang serius.
Masalahnya:
- Fashion itu high perception, standar visual di TikTok sudah sangat tinggi.
- Kalau feed dan videomu “b aja”, kamu tidak sedang main di liga fashion, tapi di liga “baju murah random”.
Begitu fokus digeser:
- TikTok dijadikan panggung utama: konten styling, before-after, behind the scenes, live try-on.
- Marketplace difungsikan sebagai checkout resmi (link di bio, keranjang kuning, dll).
Hasilnya cenderung jauh lebih sehat daripada sekadar buka di semua marketplace populer untuk jualan produk UMKM tanpa identitas.
Untuk insight soal pentingnya aktivasi brand lokal, kamu bisa nyambung ke:
Pentingnya Aktivasi Brand untuk Bisnis Lokal: Belajar dari Kesuksesan Baby Zu
https://brandformance.id/2025/02/16/aktivasi-brand-untuk-bisnis-lokal-malang-studi-kasus-baby-zu/
Kasus 2 – Produk Fungsional yang Memaksa Jadi “Brand Estetik”
Sebaliknya, ada juga UMKM yang jual:
- alat rumah tangga,
- barang fungsi (misal rak, tools, perlengkapan dapur),
tapi:
- maksa bikin konten aesthetic tiap hari,
- ngotot live TikTok walaupun view-nya dingin,
- budget iklan kecil dan menyebar ke TikTok + marketplace.
Padahal buyer mereka:
- kebanyakan masuk dari search “rak besi murah”, “lampu LED dapur” di marketplace,
- bandingkan harga, ulasan, dan rating toko,
- lalu checkout.
Strategi yang lebih waras:
- TikTok: cukup jadi etalase pendukung, konten 1–2x seminggu, fokus trust.
- Shopee/Tokopedia: dijadikan rumah utama. Optimasi judul, harga kompetitif, bundling, dan iklan dalam platform.
Jadi lagi-lagi, pertanyaannya bukan cuma “Apa rekomendasi marketplace populer untuk jualan produk UMKM?”
Tapi:
“Di mana habitat paling alami untuk orang membeli produk saya?”
Langkah Praktis: Cara Menentukan Channel Utama dalam 14 Hari
Biar kamu tidak berhenti di teori, ini checklist brutal tapi praktis:
1. Audit Semua Channel yang Kamu Pakai Sekarang
Catat 3 bulan terakhir:
- Omzet per channel (TikTok, Shopee, Tokopedia, dsb),
- Biaya iklan + promosi,
- Estimasi komisi + fee,
- Waktu tim yang terpakai.
Lalu jawab jujur:
“Channel mana yang bikin saya paling capek, tapi profit-nya paling kecil?”
Biasanya di situ sumber masalahmu.
2. Pilih 1 Channel Utama dan 1–2 Channel Pendukung
Contoh pola:
- High perception brand (fashion, parfum, skincare)
- Utama: TikTok (social commerce)
- Pendukung: Shopee/Tokopedia sebagai checkout & katalog.
- Produk komoditas / fungsional
- Utama: Shopee/Tokopedia (search-based marketplace).
- Pendukung: TikTok/IG untuk trust & awareness.
Ini juga nyambung dengan keputusan: mau bangun tim sendiri atau pakai agency. Kalau kamu lagi di persimpangan itu, baca juga:
Pilih Tim Inhouse atau Agency: Manakah yang Tepat untuk Bisnis Anda?
https://brandformance.id/2025/02/17/pilih-tim-inhouse-atau-agency/
3. Untuk TikTok-First: Invest di Konten dan Sistem, Bukan Sekadar FYP
Kalau setelah audit kamu sadar harus TikTok-first:
- Bangun pilar konten: edukasi, entertainment, testimoni, behind the scenes.
- Siapkan format live yang repeatable, bukan sekali-sekali.
- Jadikan marketplace (Shopee/Tokopedia) sebagai tangan kanan checkout, bukan saingan.
Kalau kamu ingin perspektif soal kenapa ads tetap jadi pondasi penting, kamu bisa baca:
Why I Tell New Businesses to Start with Ads, Then Add Organic Later
https://dirgaisman.substack.com/publish/posts/detail/163900511?referrer=%2Fpublish%2Fposts%2Fpublished
4. Bangun Database di Luar Marketplace
Marketplace dan TikTok bagus untuk akuisisi, tapi repeat order paling enak itu dari:
- WhatsApp,
- email,
- atau komunitas.
Supaya funnelmu gak cuma berhenti di “orang yang kebetulan lewat FYP hari itu”.
Untuk perspektif lebih dalam soal retensi, cek:
WhatsApp: The Secret Weapon for B2B Customer Retention in Indonesia
https://dirgaisman.substack.com/publish/posts/detail/161065110?referrer=%2Fpublish%2Fposts%2Fpublished
5. Dokumentasikan Angka, Jangan Cuma Rasa
Setiap 30 hari, wajib cek:
- Berapa pesanan per channel,
- Berapa biaya iklan,
- Berapa fee & diskon,
- Berapa profit per channel.
Kalau kamu tidak mau lihat angka, jangan salahkan channel.
Sering kali masalahnya bukan di “marketplace mana”, tapi di “owner males lihat dashboard”.
Penutup: Marketplace Itu Bukan Tuhan, Cuma Tools
Singkatnya, ketika kita bicara rekomendasi marketplace populer untuk jualan produk UMKM, poin utamanya bukan:
- “Pilih Shopee atau Tokopedia?”
- “TikTok atau marketplace biasa?”
Tetapi:
- Brand kamu hidup di habitat apa?
High perception atau komoditas? Social-first atau search-first? - TikTok itu mesin demand atau cuma tempat ikut tren?
Kalau kamu mau main di TikTok sebagai social commerce, terima konsekuensinya:- konten harus niat,
- estetika harus layak liga industri,
- bukan cuma recycle katalog dari marketplace.
- Marketplace mana yang benar-benar kasih profit sehat?
Sesekali kamu perlu berani “matikan” channel yang cuma bikin bangga di story, tapi nyakitin laporan keuangan.
Kalau kamu ingin diskusi lebih serius soal:
- memilih marketplace yang paling sehat untuk bisnismu,
- merancang TikTok-first funnel,
- atau butuh tim yang bisa bantu dari konten, ads, sampai optimasi marketplace,
kamu bisa cek dulu:
Uraga Digital – Digital Marketing Agency Malang, Jakarta, Surabaya
https://uraga.co.id
Dan kalau mau lihat bagaimana Uraga diposisikan di Brandformance Magz:
Uraga: Digital Marketing Agency Malang Terdepan untuk Pertumbuhan Bisnis Anda
https://brandformance.id/2025/02/16/uraga-digital-marketing-agency-malang-terdepan-untuk-pertumbuhan-bisnis-anda/
read more:
- Kesiapan Brand untuk Pemasaran Digital
https://brandformance.id/2025/02/20/kesiapan-brand-pemasaran-digital/ - Pilih Tim Inhouse atau Agency: Manakah yang Tepat untuk Bisnis Anda?
https://brandformance.id/2025/02/17/pilih-tim-inhouse-atau-agency/ - Pentingnya Aktivasi Brand untuk Bisnis Lokal: Belajar dari Kesuksesan Baby Zu
https://brandformance.id/2025/02/16/aktivasi-brand-untuk-bisnis-lokal-malang-studi-kasus-baby-zu/ - Uraga: Digital Marketing Agency Malang Terdepan untuk Pertumbuhan Bisnis Anda
https://brandformance.id/2025/02/16/uraga-digital-marketing-agency-malang-terdepan-untuk-pertumbuhan-bisnis-anda/ - Kenapa Brand Harus Rutin Bikin Konten di 2025
https://brandformance.id/2025/02/17/kenapa-brand-harus-rutin-bikin-konten-di-2025/
External Link (Substack) yang Relevan
- Why I Tell New Businesses to Start with Ads, Then Add Organic Later
https://dirgaisman.substack.com/publish/posts/detail/163900511?referrer=%2Fpublish%2Fposts%2Fpublished - Stop Losing Warm Leads: My Go-To Video Retargeting Playbook
https://dirgaisman.substack.com/publish/posts/detail/171949207?referrer=%2Fpublish%2Fposts%2Fpublished - How to Choose Influencers That Actually Convert
https://dirgaisman.substack.com/publish/posts/detail/163276206?referrer=%2Fpublish%2Fposts%2Fpublished - WhatsApp: The Secret Weapon for B2B Customer Retention in Indonesia
https://dirgaisman.substack.com/publish/posts/detail/161065110?referrer=%2Fpublish%2Fposts%2Fpublished

